Nge jump Bareng Siswa Jepang

Nge-jump Bareng Siswa Jepang by Abdul Haris Rosyidi

Saya beberapa kali tertegun, diam beberapa jenak, saat membaca tulisan terkait praktik pembelajaran karya Manabu Sato, Profesor dari Universitas Gakushuin Tokyo. Ada cakrawala baru yang saya dapatkan setelah membacanya. Tak hanya itu, tulisan itu juga menggugah kesadaran dan memunculkan satu pertanyaan reflektif dalam benak saya, “jangan-jangan, selama ini, saya belum membelajarkan mahasiswa?”
Dari sekedar tertegun membaca tulisannya, saya bersyukur mendapat berkesempatan menjadi pendengar langsung orasi ilmiah Manabu Sato. Saya merasa, ada beberapa prespektif pembelajaran yang selama ini tak terpikirkan, bahkan kadang berseberangan dengan apa yang saya yakini sebelumnya. Tak hanya itu, menyaksikan langsung bagaimana praktik pembelajaran di Jepang semakin memperkaya pemahaman saya tentang bagaimana siswa harus dibelajarkan. Dan sekalimat Manabu Sato tentang pembelajaran kembali terngiang, “belum dikatakan belajar, bila siswa hanya mengutarakan apa yang sudah ada di pikiran.”
Dan pagi itu, sekitar jam 09.00, saya telah berada di ruang kelas 4 SD Hamanogo, di Jepang. Saat itu, seorang guru sedang membelajarkan materi luas persegipanjang.
Pada fase-fase awal, guru mengingatkan kembali mengenai apa yang sudah dikerjakan siswa di pertemuan sebelumnya. Tak hanya itu, guru juga telah memilih lima jawaban representatif dan akan dibahas pagi itu. Berikut pertanyaan yang diajukan si guru di pertemuan lalu.
Hitunglah luas daerah pada gambar berikut.

Dari soal tersebut, 5 jawaban terpilih dipampangkan guru di papan tulis. Ada 4 cara yang digunakan siswa untuk menjawabnya, (1) membuat persegi-persegi satuan, kemudian menghitung banyaknya, (2) membagi bangun menjadi dua persegipanjang (satu dengan garis bantu vertikal, lainnya dengan garis bantu horizontal), kemudian menjumlahkan luasnya, (3) memotong salah satu bagian, menggabungkannya kembali menjadi persegipanjang “baru” yang berukuran 3 cm x 6 cm, dan (4) menghitung luas persegipanjang besar (6 cm x 4 cm), dan menguranginya dengan luas persegipanjang kecil (3 cm x 2 cm).
Yang menarik perhatian saya adalah cara guru saat membahasnya. Pak guru tidak mempersilahkan yang punya jawaban untuk menjelaskannya, melainkan meminta siswa lain untuk menduga cara berpikir penulisnya. Beberapa siswa mencoba menjelaskannya, guru mengapresiasi setiap uraian. Tidak ada pertanyaan benar-salah, keberanian siswa mengutarakan idenya menjadi hal utama.
Setelah dirasa cukup, guru mengatakan pada siswa, “berikutnya adalah jumping task, yang harus kamu selesaikan secara kelompok beranggotakan 4 orang.” Sebagai informasi, ada 2 model tugas yang harus diselesaikan siswa di sebagian besar pembelajaran di Jepang, sharing task, dan jumping task.
Sharing task memuat soal atau masalah yang tingkat kesulitannya setara dengan soal-soal yang ada di buku teks. Dan untuk soal yang diajukan guru di muka, masih termasuk sharing task. Tugas ini dimaksudkan untuk memberi pondasi pada siswa agar siap menyongsong tugas yang lebih menantang, jumping task. Sharing task lebih sering dikerjakan secara individu, tapi ruang saling membelajarkan luas terbentang. Jumping task merupakan tugas yang harus diselesaikan secara kolaboratif (bukan kooperatif) dengan setting kelompok. Jumping task berisikan soal atau masalah yang memaksa siswa berpikir lebih, dan biasanya tak bisa sendiri, butuh partner diskusi. Meski demikian, soal pada tugas ini masih berada pada ZPD siswa.
Soal jumping yang diajukan guru tersebut sebagai berikut.
Tentukan luas bangun pada gambar berikut.

Saya berharap ada diskusi antar siswa di setiap kelompok, tapi saya tak menemukannya di banyak kelompok. Sebagian besar siswa menyelesaiakannya sendiri. Kelihatannya, pembahasan sharing task di awal pembelajaran menjadi modal yang kuat bagi siswa untuk menyelesaikan jumping task-nya secara mandiri. Ataukah, soalnya tidak nge-jump, kurang kompleks, sehingga tanpa banyak diskusi, siswa dengan segera mampu menyelesaikannya.
Saya menemukan analogi cara yang digunakan siswa dalam menyelesaikan jumping task dengan metode yang dibahas di sharing task di awal pembelajaran.
Seorang siswa mencoba membuat persegi-persegi satuan, tapi bingung dalam menentukan banyak yang tepat menutupi luasan. Adanya persegi-persegi yang tidak utuh menghambat pendekatan yang digunakan siswa tersebut. Metode potong-tempel juga saya jumpai, saat seorang siswa memotong bagian kiri-kanan dari bangun, menempelkannya di bagian atas dan bawah, lalu menghitung luas persegipanjang dengan ukuran 4 cm x 14 cm yang terbentuk.
Dua ilustrasi gambar berikut menyajikan selesaian siswa yang masih menggunakan teknik gunting-tempel, tapi dikombinasikan dengan membagi bangun menjadi beberapa persegipanjang.

Meski tugas di atas masih bisa diperdebatkan, termasuk jumping task atau bukan, yang pasti, pengalaman itu telah menyiratkan benih keinginan saya untuk mengajak mahasiswa nge-jump saat kuliah. (Surabaya, 3 Januari 2018)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *